- (021) 53660861
- tableau@ilogoindonesia.id
- AKR Tower – 9th Floor Jl. Panjang no. 5

Di era sekarang, hampir semua perusahaan ingin membuat data lebih mudah diakses. Harapannya sederhana: semua orang bisa bertanya ke data seperti ngobrol biasa, lalu langsung mendapatkan insight yang relevan.
Inilah yang disebut sebagai conversational analytics.
Konsepnya terdengar menarik—cukup tanya, lalu dapat jawaban. Tapi dalam praktiknya, banyak perusahaan mengambil jalan pintas: mencoba membangun sendiri solusi ini dengan chatbot sederhana atau integrasi AI seadanya.
Masalahnya, pendekatan ini sering terlihat berhasil di awal… tapi justru menimbulkan masalah baru di belakang.
Saat pertama kali mencoba, banyak tim merasa sudah “cukup” ketika berhasil membuat chatbot yang bisa menjawab pertanyaan dasar seperti:
“Berapa total sales bulan ini?”
“Berapa jumlah customer di wilayah tertentu?”
Ini dikenal sebagai natural language query (NLQ)—kemampuan menerjemahkan pertanyaan menjadi query data.
Sekilas, ini terlihat seperti solusi lengkap. Tapi sebenarnya, ini baru bagian paling atas dari “gunung es”.
Karena dalam dunia nyata, pertanyaan bisnis tidak sesederhana itu.
User tidak hanya ingin tahu apa yang terjadi, tapi juga:
Kenapa itu terjadi?
Apa dampaknya?
Apa yang harus dilakukan selanjutnya?
Dan di sinilah kebanyakan solusi DIY mulai gagal.
Tanpa fondasi yang kuat, AI hanya akan “menebak”.
Misalnya, ketika seseorang bertanya tentang profit margin, AI bisa saja menghitungnya dengan rumus standar. Tapi bagaimana jika definisi profit di perusahaan kamu berbeda? Misalnya harus memasukkan atau mengecualikan komponen tertentu?
Tanpa pemahaman konteks bisnis, hasil yang diberikan bisa:
Tidak akurat
Tidak konsisten
Bahkan menyesatkan
Faktanya, banyak pemimpin data mengakui bahwa mereka pernah mendapatkan output AI yang tidak akurat atau misleading.
Dan ini bukan sekadar error kecil—ini bisa berdampak langsung pada keputusan bisnis.
Untuk benar-benar bekerja dengan baik, conversational analytics membutuhkan lebih dari sekadar chatbot.
Ada beberapa elemen penting yang harus ada:
1. Data yang Terintegrasi dan Terstruktur Semua data harus berasal dari sumber yang jelas dan konsisten. Tanpa ini, AI tidak punya “dasar kebenaran”.
2. Semantic Layer (Bahasa Bisnis yang Sama) Sistem harus memahami definisi bisnis secara spesifik—bukan asumsi umum.
3. Insight yang Proaktif Bukan hanya menjawab pertanyaan, tapi juga memberikan insight tanpa diminta.
4. Analisis Mendalam (Bukan Jawaban Satu Baris) Mampu menjelaskan kenapa sesuatu terjadi, bukan hanya menampilkan angka.
5. Actionable Insight Insight tidak berhenti di dashboard, tapi bisa langsung ditindaklanjuti.
Semua ini adalah “bagian bawah gunung es” yang sering tidak terlihat, tapi justru paling penting.
Melihat kompleksitas ini, banyak perusahaan tetap mencoba membangun sendiri. Alasannya biasanya:
Ingin lebih fleksibel
Menghemat biaya
Menggunakan resource internal
Tapi kenyataannya sering berbeda.
1. Masalah Governance & Security Membangun sistem yang aman dari nol bukan hal mudah. Risiko kebocoran data dan akses tidak sah jadi sangat besar.
2. Maintenance Tanpa Henti Model AI terus berubah. Integrasi harus terus diperbaiki. Tim internal akhirnya lebih banyak “memperbaiki sistem” daripada menghasilkan insight.
3. Biaya Tersembunyi yang Besar Alih-alih hemat, justru jadi mahal karena:
Waktu tim terpakai
Sistem tidak stabil
Hasil tidak maksimal
Akibatnya, data yang seharusnya menjadi aset… malah berubah jadi cost center.
Satu hal penting yang sering dilupakan: tujuan utama analytics bukan hanya melihat data, tapi mengambil tindakan.
Banyak sistem berhenti di tahap insight:
Dashboard sudah ada
Data sudah dianalisis
Tapi tidak ada aksi
Conversational analytics yang ideal justru menghubungkan keduanya:
Insight muncul
Aksi bisa langsung dilakukan
Semua dalam satu workflow
Inilah yang disebut sebagai “last mile” dalam analytics—dan justru bagian paling krusial.
Bukan berarti kamu tidak boleh berinovasi atau mencoba hal baru. Tapi untuk sesuatu yang kompleks seperti conversational analytics, pendekatannya harus realistis.
Daripada membangun semuanya dari nol, lebih baik:
Gunakan platform yang sudah teruji
Fokus ke problem bisnis, bukan teknologi
Pastikan data dan governance sudah siap
Karena pada akhirnya, value bukan datang dari seberapa canggih sistem yang kamu bangun… tapi seberapa cepat kamu bisa menggunakannya untuk mengambil keputusan.
Conversational analytics memang menjanjikan masa depan di mana semua orang bisa “berbicara dengan data”. Tapi untuk sampai ke sana, dibutuhkan fondasi yang jauh lebih dalam dari sekadar chatbot.
Membangun sendiri mungkin terlihat cepat di awal, tapi sering kali berujung pada sistem yang tidak akurat, sulit dirawat, dan tidak memberikan nilai nyata.
Jadi mungkin sekarang saatnya berhenti bertanya: “Bagaimana cara kita membangunnya sendiri?”
Dan mulai bertanya: “Bagaimana cara kita benar-benar mendapatkan value dari data?”
Karena di dunia data, bukan yang paling cepat membangun yang menang… tapi yang paling cepat menghasilkan insight yang bisa langsung ditindaklanjuti.
Infrastruktur IT yang kuat adalah kunci produktivitas perusahaan. Dengan Tableau Indonesia, merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang merupakan mitra terpercaya dalam solusi Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia. Hubungi kami sekarang atau kunjungi tableau.ilogoindonesia.id untuk informasi lebih lanjut!
©2024 Tableau Indonesia. All Right Reserved.